KOMPAS.com - "Bisa bantu cari kos-kosan, nggak. Berapa, ya, kira-kira budgetnya. Anak saya mau kuliah di ITB, apakah cukup Rp 1.000.000 sebulan kalau di ngekos di sana?," ujar Slamet (42), orang tua dari M. Iwan (18), siswa SMA di Bekasi yang tahun ini berencana kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat.
Sepertinya, bukan Slamet saja orang tua siswa yang sedang mempersiapkan studi bagi putra-putrinya di jelang tahun akademik baru 2010/2011 ini. Dari sekian banyak urusan persiapan studi itu, kos-kosan atau tempat tinggal adalah satu yang urusan cukup pelik juga untuk diselesaikan. Lain soal kalau kebetulan kantong si orang tua tebal, kalau yang berkantong pas-pasan? Duh, bisa-bisa malah rugi di ongkos.
Memang, di daerah yang padat dengan komunitas pelajarnya, kos-kosan bukan persoalan sulit. Sudah hukumnya jika di ada kampus berdiri, di sekitar itu pula menjamur kos-kosan. Hanya saja, sesuai kantong atau enggak, ya? Itu yang penting.
Dekat kampus
Sedikit lebih mahal tentu bukan masalah jika kuliah jadi lebih efektif dan efisien, baik dalam hal waktu dan biaya. Yang perlu diperhatikan, seberapa jauh jarak dari kampus itu ke kos? Perlu berapa besar ongkos yang keluar jika masih harus memakai angkutan umum untuk pergi ke kampus?
Sepeda atau motor
Oke, anggap saja mau lebih irit lagi, sehingga bukan masalah jika harus mengambil lokasi kos yang jaraknya sedikit lebih jauh dari kampus. Pertimbangannya, berapa banyak ongkos bakal keluar setiap bulan? Bagaimana kalau ada tugas dadakan atau belajar kelompok di tempat teman yang jaraknya juga jauh dari kampus atau tempat kos?
Sepeda atau motor mungkin bisa jadi solusinya. Selain lebih irit, kedua moda transportasi ini tergolong lebih "ramah" dengan budget. Hanya, tinggal dipertimbangkan, kira-kira yang mana yang paling cocok sesuai jarak dan waktu untuk dikaitkan dengan anggaran bulanan.
Lokasi strategis
Umumnya, selain menjamur kos-kosan, berdirinya kampus juga mengundang sentra bisnis lain di sekitarnya untuk tumbuh, mulai dari mal dan bioskop, warnet, restoran atau kafe, sampai yang sekelas warung kopi dan warung nasi tegal (warteg). Alhasil, kalau tidak mendapatkan kos di sekitar kampus, bersiap-siaplah mencari lokasi yang agak jauh dari kampus tapi dekat dengan pusat-pusat bisnis itu. Setidaknya, suasana di sentra-sentra bisnis itu bisa mengurangi sedikit kejenuhan belajar di kala senggang.
Fasilitas
-MCK
Dari semua fasilitas yang ada, urusan mandi, cuci, kakus (MCK) tentu bukan persoalan yang bisa dianggap sepele. Inilah jaminan pertama biaya orang mau memilih kos dan bisa nyaman di tempat baru. Hanya saja, kenyamanan ini tentu juga tergantung anggaran yang dikeluarkan.
Mau kamar mandi sendiri? Tentu harga yang dikeluarkan beda dengan kos-kosan berkamar mandi komunal alias rame-rame. Minimal, kalau memang sudah disesuaikan budget, satu kamar mandi untuk satu-tiga orang rekan kos lainnya.
-Makan
Beruntung betul kalau si pemilik kos bisa menyediakan makan dua kali atau tiga kali sehari. Cuma biasanya, penyediaan makan "rantangan" ini dikenai additional charge dari si pemilik kos. Kalau cocok, dalam arti enak dan sehat, silahkam ambil. Kalau tidak, survei saja kedai-kedai makanan yang kerap bertebaran di sekitar kampus atau menempel di kompleks kos-kosan yang biasanya menawarkan harga sangat murah.
-Lemari, tempat tidur, dan meja belajar
Biasanya, harga sewa kos yang diberikan sudah satu paket dengan lemari dan tempat tidur. Tapi, ada juga pemilik kos yang hanya memberikan fasilitas tempat tidur/kasur, sementara lemari dan meja belajar tidak dihitung. Kalau demikian kiranya, silahkan bawa sendiri dari rumah. Mau kreatif bikin sendiri tentu akan lebih hemat biaya.
Buat kaum mahasiswa (laki-laki), persoalan meja belajar biasanya tidak pernah dipermasalahkan. Lain hal kalau mahasiswi (perempuan), yang kerap ingin lebih nyaman, rapi, dan tertib.
-Listrik
Ini juga sering menjadi masalah kalau dari awal perjanjian sewa-menyewa kurang jelas dan konsisten. Biasanya, pemilik kos sudah menyiapkan aturan sendiri soal penggunaan listrik serta peralatan pribadi yang membutuhkan daya listrik tambahan, baik itu TV atau komputer/laptop. Tanyakan dengan lebih jelas, agar jangan sampai di tengah-tengah asyik nonton tv atau mengetik paper tiba-tiba listrik turun dan bikin ngadat instalasi listrik di situ.
-Internet
Masih terbilang jarang ada kos-kosan yang menerapkan koneksi Wi-Fi untuk para penyewa kos. Kalaupun ada, bisa ditebak sendiri tergolong kelas apa kos-kosan tersebut dan berapa harganya. Tapi beruntunglah, semakin canggihnya teknologi dengan hadirnya teknologi mobile internet saat ini membuat penyewa kos tak perlu sulit cari koneksi internet. Dan, buat yang belum punya laptop atau ponsel canggih, menjamurnya warnet saat ini pun sudah semirip wartel yang di zaman tahun 90-an hadir di setiap jengkal kompleks kos-kosan.
Lingkungan
Lingkungan seperti apa yang kamu sukai, sepi atau ramai? Pilihan ini biasanya tergantung kebiasaan, khususnya saat dihubungkan dengan suasana belajar dan kenyamanan istirahat. Pertimbangan ini juga erat hubungannya kelak dengan keamanan bagi penghuni kos-kosan tersebut, baik keamanan barang-barang di dalam kos atau keamanan dalam pergaulan/kejahatan fisik di luar kos-kosan.
Khusus buat para calon mahasiswi (perempuan), sebaiknya hindari kos-kosan yang penghuninya sering kecurian barang atau tidak menerapkan aturan ketat ihwal keluar-masuknya orang luar ke dalam kompleks kos-kosan.
Bergaul
Persoalan kecil tapi tak jarang dirasakan juga membawa pengaruh besar pada masa depan kita adalah teman kos dan dinamika pergaulannya. Bukan sekali dua kali bahwa persoalan narkoba, seks bebas, atau terorisme kerap berkembang biak dan bermula di kos-kosan. Maka, ada baiknya mencari lebih dulu informasi tentang pergaulan anak-anak kos tersebut, baik dari pemilik kos atau kakak kelas yang kebetulan pernah ngekos di situ.
Nah, sudah siap cari kos-kosan?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang